Skip to main content

Menelusuri Praktik Pembelajaran Ekoteologi di Lombok: Tim Peneliti Kunjungi Dua Pesantren di Nusa Tenggara Barat

23 July 2026 · 5 menit baca

Bagikan
Menelusuri Praktik Pembelajaran Ekoteologi di Lombok: Tim Peneliti Kunjungi Dua Pesantren di Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Barat — Bagaimana pesantren mengajarkan hubungan manusia, agama, dan alam kepada para santri? Pertanyaan tersebut membawa tim peneliti melakukan perjalanan lapangan ke Nusa Tenggara Barat untuk melihat secara langsung praktik pembelajaran ekoteologi yang berkembang di lingkungan pesantren.

Selama sepuluh hari, 15–24 April 2026, tim peneliti berada di Nusa Tenggara Barat dan tinggal di sekitar lingkungan pesantren. Kehadiran tim tidak sekadar untuk melakukan observasi, tetapi juga untuk berinteraksi dan memahami kehidupan pesantren dari dekat, termasuk bagaimana nilai-nilai keagamaan, pengetahuan, dan kepedulian terhadap lingkungan diintegrasikan dalam proses pendidikan santri.

Dalam kegiatan pengumpulan data lapangan ini, tim peneliti mengunjungi dua pesantren, yaitu Pesantren Nurul Haramain, Lombok Barat, dan Pesantren Alam Sayang Ibu, Mataram. Kedua pesantren tersebut dipilih karena memiliki pendekatan yang menarik dalam mengembangkan pembelajaran yang menghubungkan pendidikan Islam dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Meskipun memiliki tujuan yang sama dalam membangun kesadaran ekologis, kedua pesantren tersebut menunjukkan karakter dan pendekatan yang berbeda. Pesantren Nurul Haramain mengembangkan praktik integrative farming sebagai bagian dari pembelajaran, sementara Pesantren Alam Sayang Ibu mengembangkan pendekatan Sains Islam sebagai salah satu fondasi pembelajaran ekoteologi.

Perbedaan pendekatan tersebut menjadi perhatian penting bagi tim peneliti dalam memahami bagaimana ekoteologi dapat dikembangkan melalui berbagai model pendidikan pesantren.

Menemukan Ekoteologi melalui Integrative Farming di Nurul Haramain

Di Pesantren Nurul Haramain, Lombok Barat, tim peneliti melihat bagaimana tradisi pendidikan pesantren dapat dipadukan dengan pembelajaran berbasis lingkungan melalui praktik integrative farming.

Model ini memperlihatkan bagaimana lingkungan tidak hanya menjadi latar tempat berlangsungnya pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran itu sendiri. Santri diperkenalkan pada berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pertanian dan pengelolaan sumber daya secara terpadu.

Melalui integrative farming, proses pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan di dalam kelas. Santri mendapatkan pengalaman langsung melalui interaksi dengan tanah, tanaman, air, dan berbagai unsur lingkungan lainnya.

Praktik tersebut memberikan ruang bagi santri untuk belajar memahami hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Di satu sisi, mereka memperoleh keterampilan praktis dalam mengelola sumber daya lingkungan. Di sisi lain, aktivitas tersebut dapat menjadi media untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan mengenai tanggung jawab manusia dalam menjaga dan memanfaatkan alam secara bijaksana.

Bagi tim peneliti, pengalaman di Pesantren Nurul Haramain menunjukkan bahwa pembelajaran ekoteologi dapat tumbuh melalui praktik kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ekologis tidak hanya diajarkan melalui konsep, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang memungkinkan santri memahami lingkungan sebagai bagian dari kehidupan dan pendidikan mereka.

Sains Islam sebagai Jalan Pembelajaran Ekoteologi

Sementara itu, kunjungan ke Pesantren Alam Sayang Ibu di Mataram memperlihatkan pendekatan yang berbeda dalam mengembangkan pembelajaran ekoteologi.

Pesantren ini mengembangkan pendekatan Sains Islam sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pendekatan tersebut menjadi menarik bagi tim peneliti karena membuka ruang dialog antara ilmu pengetahuan, nilai-nilai Islam, dan kesadaran ekologis.

Melalui perspektif Sains Islam, alam dipahami bukan hanya sebagai objek yang dapat dipelajari, tetapi juga sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan. Dengan demikian, proses memahami alam dapat menjadi bagian dari proses pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan kesadaran ekologis.

Tim peneliti melihat bagaimana pendekatan tersebut memberikan peluang untuk membangun cara pandang santri yang lebih integratif terhadap ilmu pengetahuan. Sains tidak ditempatkan secara terpisah dari agama, sementara pendidikan agama tidak dilepaskan dari realitas alam dan persoalan lingkungan.

Pendekatan ini menjadi salah satu temuan menarik dalam penelitian karena memperlihatkan bahwa pembelajaran ekoteologi dapat dikembangkan melalui integrasi antara agama, sains, dan lingkungan.

Tinggal di Sekitar Pesantren, Memahami Ekoteologi dari Kehidupan Sehari-hari

Selama sepuluh hari berada di Nusa Tenggara Barat, tim peneliti memilih untuk tinggal di sekitar lingkungan pesantren. Pilihan ini dilakukan agar proses pengumpulan data dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kehidupan pendidikan dan praktik ekoteologi yang berlangsung di kedua pesantren.

Dengan berada lebih dekat dengan kehidupan pesantren, tim dapat mengamati berbagai aktivitas santri, memahami pola pembelajaran, serta melihat bagaimana nilai-nilai ekologis diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan lapangan semacam ini memungkinkan tim peneliti tidak hanya melihat ekoteologi sebagai sebuah konsep akademik, tetapi juga sebagai praktik yang hidup dalam komunitas pesantren.

Dari interaksi dan pengamatan tersebut, tim menemukan bahwa pendidikan ekoteologi memiliki banyak kemungkinan untuk dikembangkan. Pesantren dapat menggunakan pendekatan pertanian dan pengelolaan lingkungan sebagai media pembelajaran, sebagaimana yang terlihat di Pesantren Nurul Haramain. Di sisi lain, pesantren juga dapat membangun kesadaran ekologis melalui integrasi agama dan ilmu pengetahuan, sebagaimana pendekatan Sains Islam yang dikembangkan di Pesantren Alam Sayang Ibu.

Dua Pesantren, Dua Pendekatan, Satu Kesadaran Ekologis

Kunjungan lapangan ke dua pesantren di Nusa Tenggara Barat memberikan perspektif penting bagi penelitian tentang pembelajaran ekoteologi. Pesantren Nurul Haramain dan Pesantren Alam Sayang Ibu memperlihatkan bahwa pendidikan ekoteologi tidak memiliki satu bentuk tunggal.

Ia dapat hadir melalui praktik pertanian terpadu yang mengajarkan santri untuk berinteraksi langsung dengan alam. Ia juga dapat hadir melalui pendekatan Sains Islam yang mengajak santri memahami alam melalui perpaduan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman.

Dua pendekatan tersebut menunjukkan satu hal yang sama: pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi ruang strategis dalam membangun kesadaran ekologis generasi muda.

Dalam konteks perubahan iklim dan berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks, pendidikan yang menghubungkan agama, ilmu pengetahuan, dan lingkungan menjadi semakin relevan. Pesantren, dengan tradisi pendidikan dan kehidupan komunitas yang kuat, memiliki peluang besar untuk mengambil peran dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab ekologis.

Pengumpulan data lapangan di Nusa Tenggara Barat menjadi bagian penting dari perjalanan penelitian multiyears tentang Pembelajaran Ekoteologi di Pesantren. Temuan dari dua pesantren tersebut akan menjadi bahan penting bagi tim peneliti untuk memahami lebih jauh beragam model, pendekatan, dan praktik pembelajaran ekoteologi di lingkungan pendidikan Islam.

Dari Lombok Barat hingga Mataram, perjalanan penelitian ini memperlihatkan bahwa ekoteologi dapat dipelajari dari banyak jalan. Dari tanah dan kebun, santri belajar tentang kehidupan. Dari sains, mereka belajar membaca tanda-tanda alam. Dan dari nilai-nilai Islam, mereka belajar bahwa menjaga bumi adalah bagian dari tanggung jawab manusia.

Pada akhirnya, pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk mempelajari agama, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk belajar merawat kehidupan—sebuah ruang pendidikan yang mengajarkan bahwa masa depan manusia dan masa depan alam merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.