Skip to main content

Menelusuri Jejak Ekoteologi di Dayah: Tim Peneliti Hidup Bersama Santri Ummul Ayman Bireuen

23 July 2026 · 5 menit baca

Bagikan
Menelusuri Jejak Ekoteologi di Dayah: Tim Peneliti Hidup Bersama Santri Ummul Ayman Bireuen

Bireuen, Aceh — Selama sepuluh hari, lingkungan Dayah Ummul Ayman Bireuen menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium lapangan bagi tim peneliti yang tengah mengkaji Pembelajaran Ekoteologi di Dayah. Bukan sekadar datang untuk mengumpulkan data, tim peneliti memilih tinggal di sekitar dayah, berinteraksi dengan santri, mengikuti aktivitas keseharian mereka, dan menyaksikan secara langsung bagaimana nilai-nilai keislaman dan kepedulian terhadap lingkungan dipraktikkan dalam kehidupan pendidikan dayah.

Kegiatan pengumpulan data penelitian tersebut berlangsung pada 1–10 April 2026. Tim peneliti terdiri atas Prof. Mohd. Nasir, MA, Dr. Hazizah Hanum, Yogi Febriandi, M.Sos., dan Wali Alkhalidi. Penelitian ini merupakan penelitian multiyears yang didanai oleh MORA The Airfund Tahun 2026.

Selama sepuluh hari berada di lingkungan Dayah Ummul Ayman, tim peneliti berusaha menangkap ekoteologi bukan hanya sebagai konsep yang dibicarakan di ruang akademik, tetapi sebagai nilai yang hidup dan berinteraksi dengan keseharian santri.

Dari aktivitas belajar hingga pengelolaan lingkungan, dari kebun hingga pengelolaan sampah, tim peneliti menyaksikan berbagai praktik yang memperlihatkan bagaimana relasi antara manusia, agama, dan alam dibangun dalam kehidupan komunitas dayah.

Tinggal Bersama Santri, Menyaksikan Ekoteologi dari Dekat

Pendekatan tinggal di sekitar dayah menjadi bagian penting dari proses penelitian. Dengan hidup berdampingan bersama komunitas santri, tim peneliti memiliki kesempatan untuk melihat berbagai aktivitas secara lebih dekat dan natural.

Pengumpulan data tidak hanya dilakukan melalui wawancara dan observasi, tetapi juga melalui interaksi dan percakapan sehari-hari dengan para santri. Dari sinilah tim peneliti menemukan berbagai cerita dan pengalaman tentang bagaimana lingkungan menjadi bagian dari proses pendidikan.

Bagi tim peneliti, kehidupan dayah memperlihatkan bahwa pembelajaran ekoteologi dapat berlangsung melalui berbagai cara. Nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu hadir dalam bentuk teori atau materi pembelajaran yang berdiri sendiri, tetapi juga dapat tumbuh melalui pembiasaan, keteladanan, pengelolaan lingkungan, dan keterlibatan langsung santri dalam berbagai aktivitas produktif.

Di lingkungan Dayah Ummul Ayman, tim peneliti berkesempatan melihat praktik pengelolaan dan daur ulang sampah. Sampah tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.

Tim juga mengamati bagaimana santri mendapatkan pengalaman dalam mengelola kebun. Aktivitas ini menjadi ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan, keterampilan, dan nilai keagamaan. Santri berhadapan langsung dengan tanah, tanaman, air, dan berbagai proses alam yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, tim peneliti juga menemukan praktik kewirausahaan berbasis ekoteologi. Aktivitas tersebut menunjukkan adanya peluang untuk menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pengembangan ekonomi produktif. Ekoteologi, dalam konteks ini, tidak berhenti sebagai gagasan tentang pentingnya menjaga alam, tetapi dapat diterjemahkan menjadi praktik yang memiliki nilai sosial dan ekonomi.

Berdiskusi dengan Abuya Waled Nu

Salah satu agenda penting dalam proses pengumpulan data adalah wawancara dan diskusi bersama Abuya Waled Nu, pimpinan Dayah Ummul Ayman sekaligus Rais Aam PWNU Aceh.

Pertemuan tersebut memberikan perspektif penting bagi tim peneliti dalam memahami pengalaman dan pengamalan ekoteologi di lingkungan Dayah Ummul Ayman. Melalui diskusi yang berlangsung secara mendalam, tim peneliti memperoleh pengetahuan mengenai cara pandang, pengalaman, serta praktik pendidikan yang berkaitan dengan hubungan antara Islam, manusia, dan lingkungan.

Diskusi bersama Abuya Waled Nu juga membuka ruang pemahaman bahwa persoalan lingkungan dapat dibaca dalam perspektif keagamaan. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup, tetapi juga menjadi bagian dari amanah yang harus dijaga dan dikelola secara bertanggung jawab.

Perspektif tersebut menjadi penting dalam penelitian karena pendidikan ekoteologi di dayah memiliki karakter yang khas. Ia tumbuh dalam lingkungan pendidikan Islam yang menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari.

Bagi tim peneliti, pengalaman berdiskusi dengan Abuya Waled Nu menjadi salah satu sumber penting untuk memahami bagaimana nilai-nilai tersebut diterjemahkan dalam praktik pendidikan dan kehidupan komunitas Dayah Ummul Ayman.

Dayah sebagai Ruang Pendidikan Ekologi

Temuan awal dari proses pengumpulan data menunjukkan bahwa dayah memiliki potensi besar untuk menjadi ruang strategis dalam pengembangan pendidikan ekoteologi.

Kehidupan dayah yang berlangsung dalam komunitas dan lingkungan pendidikan yang relatif intens memungkinkan pembentukan kesadaran ekologis dilakukan melalui proses yang berkelanjutan. Santri tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga mengalami langsung praktik kehidupan yang berkaitan dengan kebersihan, pengelolaan lingkungan, pertanian, pemanfaatan sumber daya, hingga kegiatan ekonomi produktif.

Dalam konteks ini, ekoteologi dapat menjadi jembatan antara pendidikan agama dan persoalan lingkungan. Nilai-nilai keislaman yang diajarkan di dayah dapat menjadi fondasi moral untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Pengalaman tim peneliti selama sepuluh hari di Dayah Ummul Ayman memperlihatkan bahwa pembelajaran ekoteologi dapat ditemukan dalam praktik-praktik sederhana yang berlangsung setiap hari. Mulai dari bagaimana sampah dikelola, bagaimana kebun dirawat, bagaimana santri berinteraksi dengan lingkungan, hingga bagaimana aktivitas kewirausahaan dikembangkan dengan mempertimbangkan keberlanjutan.

Dari Dayah untuk Masa Depan Lingkungan

Pengumpulan data di Dayah Ummul Ayman merupakan salah satu tahapan penting dalam penelitian multiyears tentang Pembelajaran Ekoteologi di Dayah. Data yang diperoleh selama penelitian lapangan akan menjadi bahan penting untuk dianalisis lebih lanjut guna memahami model, praktik, dan pengalaman pendidikan ekoteologi dalam konteks dayah di Aceh.

Penelitian yang didanai oleh MORA The Airfund Tahun 2026 ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik sekaligus praktis bagi pengembangan pendidikan Islam yang lebih responsif terhadap persoalan ekologis.

Lebih dari sekadar penelitian, pengalaman sepuluh hari di Dayah Ummul Ayman memberikan pesan penting: pendidikan tentang lingkungan tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas. Ia dapat tumbuh dari kebiasaan sehari-hari, dari tangan yang memilah sampah, dari santri yang merawat kebun, dari aktivitas kewirausahaan yang memperhatikan keberlanjutan, dan dari nilai-nilai agama yang mengajarkan manusia untuk menjaga amanah Tuhan atas alam.

Dari Dayah Ummul Ayman, tim peneliti menemukan sebuah ruang penting untuk melihat kembali hubungan antara agama, pendidikan, dan lingkungan. Sebuah ruang yang menunjukkan bahwa ketika ekoteologi dihidupkan dalam praktik, dayah tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga dapat menjadi ruang pembentukan generasi yang memiliki kesadaran ekologis dan tanggung jawab terhadap masa depan bumi.